Pernah sekali aku bertanya pada diri, “kan bagus, kalau aku jadi normal je? instead of been in this gerabak? Jadi je macam orang normal yang lain.”

astaghfirullah. taknak lagi timbul perasaan macam tu dalam hati. Allahu akhbar. Alhamdulillah. 

30:30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Dalam quran, Allah sebut manusia yang normal tu, manusia yang menurut fitrah beragama, tapi ada segelintir manusia, yang tidak tahu dan tak ikut fitrah tu. Dan mereka yang TAK ikut fitrah agama itu, yang sebenarnya tak normal. 

Agak tersentap di situ. 

Lagipun, mungkin kena tengok balik, apa definisi normal yang ada dalam otak waktu itu. kalau definisi normal yang ada dalam otak waktu tu adalah normal ikut pandangan masyarakat, makanya, jangan ngada-ngada cakap diri tu nak jadi normal macam tu. 

Sebab…

Normal pada pandangan masyarakat adalah berbeza dengan normal ikut pandangan Allah. Ber’pasangan’ sebelum kahwin itu adalah normal bagi sesetengah masyarakat. Bahkan, kalau kat negara-negara yang bukan islam, lebih dari berpasangan pun masih dikira normal. 

Tapi, kita tahu kan, benda yang betul benda yang salah? 

Kalau tak tahu, sila facepalm diri sendiri sebab tak belajar. Sebab tak ambil tahu. Sebab biarkan diri dalam kejahilan. 

Kalau dah tahu, tapi still buat juga benda-benda pelik yang KONON kata normal, then facepalm diri sendiri berganda-ganda kali supaya ingat dan sedar diri sikit. #tarbiyyahyangtaf.

Setakat ni, aku boleh kata, aku ni half normal. Sebab, masih lagi dalam usaha untuk menjadi normal. Betul orang kata, iman tu turun naik, normallah, tapi, sampai bila nak salahkan iman?

Bukankah manusia tu sendiri yang menjaga imannya? 

Tak perlu nak jadi pelik sangat, kalau yang pelik itu jauh dari syariat. Tak perlu nak jadi unik sangat, kalau yang unik itu, tak ikut hukum Allah.